Selasa, 06 Desember 2016

Aksi Mahasiswa Akibat G-212

Masyarakat di manapun pasti terbentuk dari individu-individu. Individu-individu yang terdiri dari berbagai latar belakang tentu akan membentuk suatu masyarakat heterogen yang terdiri dari kelompok-kelompok sosial. Dengan adanya atau terjadinya kelompok sosial ini maka terbentuklah suatu pelapisan masyarakat atau terbentuklah masyarakat yang berstrata. Dalam masyarakat tradisional terdapat tingkatan-tingkatan yang tersusun secara vertikal. Posisi seseorang dalam suatu tingkat ditentukan oleh seberapa banyak ia memiliki sesuatu yang memiliki nilai lebih, masing-masing tingkatan dan golongan memiliki hak dan kewajibannya sendiri-sendiri.

Dilingkup mahasiswa, “Dosen” termasuk stratifikasi berdasarkan tingkat pendidikan yang selalu kita patuhi dan selalu dianggap benar. Semakin tinggi pendidikan yang dimilikinya, semakin tinggi pula kedudukan sosial dihadapan mahasiswa. Menurut saya, dosen adalah seorang pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Dengan keberadaan dosen kita akan lebih mudah menangkap informasi yang benar dan yang salah.


Namun dalam berita terbaru yang saya dapat, mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya (FIB) dan Fisip Universitas Negeri Jember (Unej) menggelar aksi damai di kompleks kampus.  Selasa (6/12/2016). Dalam keterangan pers selebaran menyebutkan, aksi ini dipicu munculnya gerakan diskusi G-212 yang digagas oleh sejumlah dosen. Mahasiswa menyebut gerakan G-212 dimanfaatkan oleh oknum dosen yang tak terima pasca penetapan dekan oleh Rektor Unej beberapa waktu lalu. Peristiwa tersebut diduga mengintimidasi mahasiswa agar mengikutinya, disisi itu ada pemaksaan yang dilakukan dosen pengampu kepada mahasiswa dengan ancaman akan dicoret dari presensi mata kuliah bilamana mahasiswa yang bersangkutan tak mengikuti forum G-212 tersebut. “Kata Koordinator Aksi, Achmad Faizal B ditengah aksi demonstrasi di Gedung Fisip kampus Unej”.

Aksi ini juga diawali dari Gedung Rektorat Kampus Unej, kemudian massa melakukan longmarch dengan mengelilingi beberapa fakultas. Selain membentangkan spanduk bertuliskan kecaman, mereka juga melakukan orasi dan meminta tanda tangan dukungan dari Civitas Akademika Kampus Tegal Boto. Sebelumnya, keputusan Rektor Unej Mohamad Hasan yang menetapkan Ardianto sebagai Dekan Fisip dan Sofyan menjadi Dekan FIB berbuntut panjang.

Sejumlah mahasiswa dan dosen di FISIP dan FIB Unej menggelar aksi demontrasi. Mereka memprotes keputusan Rektor Unej karena dinilai tak sesuai dengan hasil pemilihan di tingkat Senat Fakultas. Namun terkait pemilihan itu, Penasehat Hukum Unej, Nurul Ghufron mengatakan, penetapan kedua dekan tersebut telah sesuai dengan peraturan yang berlaku. Yakni, Peraturan Menteri Pendidikan nomor 67 tahun 2008 serta Peraturan Rektor Unej periode sebelumnya, tentang pengangkatan dan pemberhentian dosen sebagai pimpinan fakultas.

Koordinator aksi, Gesang Suryandaru mengatakan, dalam aksi kali ini mereka membuat petisi yang berisi tiga poin. “Pertama, oknum dosen yang tergabung dalam G-212 wajib berbenah diri. Selanjutnya, mahasiswa meminta aksi provokasi yang dilakukan oknum dosen segera dihentikan karena mereka menilai forum diskusi tersebut adalah provokasi yang bertopeng kegiatan akademis. Dan yang ketiga kami menuntut oknum dosen G-212 meminta maaf kepada mahasiswa yang menjadi korban intimidasi secepatnya,” kata Gesang.

Menanggapi tuntutan mahasiswa itu, Rektor Unej Mohamad Hasan mengatakan, akan merespon tuntutan mahasiswa dengan menelusuri kebenaran informasi yang diterima. Karena menurutnya, sebagai lembaga pendidikan, Unej membuka ruang bagi civitas akademika untuk membuat berbagai forum diskusi dan penyampaian pendapat, selama hal tersebut tidak bertentangan dengan semangat pendidikan dan demokrasi itu sendiri.

Dunia kampus yang notabenenya adalah sebagai tempat transfer of knowledge and caracter building (memberikan ilmu pengetahuan dan membangun karakter), namun kini sudah menjadi tempat untuk melahirkan generasi-generasi yang apatis, hedonis, serta individualis. Padahal Esensi dan Subtansial mahasiswa adalah generasi yang kritis dan mengedepankan kebenaran yang hakiki.

Mahasiswa memiliki beban moral menjadi penengah antara kaum elite dan kaum bawah, mahasiswa juga sebagai mediator publik. Mahasiswa sebagai kontrol sosial dapat memainkan perannya sebagai alarm dan peran mahasiswa sebagai palu. Sebagai alarm mahasiswa berfungsi sebagai pemberi sinyal adanya kesenjangan antara harapan publik dan penguasa sebagai pemberi hak publik. Secara otomatis, sinyal itu menjadi alarm bagi pemerintah untuk melakukan koreksi diri.

Bahkan jika saya yang menjadi salah satu dari mahasiswa dalam forum tersebut, penyelenggaraan forum G-212 itu sangat merugikan mahasiswa. Sebab, agenda perkuliahan menjadi terganggu karena para dosen di perkuliahan lebih memilih menghadiri forum tersebut dan tidak memberi hak-hak perkuliahan sesuai mata kuliah yang sedang ditempuh. Jika mereka tidak melakukan demontrasi maka pada dasarnya mereka telah menaklukan dirinya pada orang lain yang memiliki kekuasaan formal sehingga tanpa disadari haknya sebagai seorang mahasiswa akan hilang. Untungnya mereka semua memiliki kesadaran yang tidak hanya mengetahui tapi mereka juga berdaya mengambil sikap dalam menuntut haknya.

Menyandang gelar mahasiswa merupakan suatu kebanggaan sekaligus tantangan karena tanggung jawab yang diemban oleh mahasiswa begitu besar. Pengertian mahasiswa tidak bisa diartikan kata perkata. Mahasiswa adalah seorang agen pembawa perubahan. Mahasiswa menjadi seorang yang dapat memberikan solusi bagi permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat di daerah maupun bangsanya.

Mahasiswa juga memiliki berbagai macam label yang melekat pada diri mahasiswa diantaranya : mahasiswa sebagai Direct Of Change (melakukan perubahan langsung) karena sumber daya manusia (SDM) yang dimiliki diatas rata-rata masyarakat biasa pada umumnya. Mahasiswa sebagai Agent Of Change (pembuat perbahan),  maksudnya sumber daya manusia yang dimiliki mahasiswa ini untuk melakukan perubahan. Mahasiswa sebagai Iron Stock, artinya sumber daya manusia dari mahasiswa tidak akan pernah habis. Mahasiswa sebagai Moral Force, artinya mahasiswa itu kumpulan orang yang memiliki moral yang baik. Mahasiswa sebagai Social Control (pengontrol kehidupan social), contohnya mengontrol kehidupan sosial yg dilakukan pemerintah terhadap setiap kebijakan.

Mahasiswa sebagai orang yang disebut-sebut sebagai insan intelektual, haruslah dapat mewujudkan status tersebut dalam ranah kehidupan nyata. Dalam arti menyadari betul bahwa fungsi dasar mahasiswa adalah bergelut dengan ilmu pengetahuan dan memberikan perubahan yang lebih baik dengan intelektualitas yang dimilikinya selama menjalani pendidikannya tersebut.

Fakta ini membuktikan bahwa mahasiswa sebagai kontrol sosial menjadi garda terdepan dalam menjaga kestabilan sosial. Fungsi taktis yang menopang peran mahasiswa dalam mengawasi akademis bukan tanpa masalah. Saat ini mahasiswa mulai kehilangan format gerakan yang tepat dalam menjalankan fungsinya tersebut. Gerakan yang dilakukan mahasiswa harus bisa menjadi problem solver (pemecah masalah), jangan sampai gerakan tersebut malah menimbulkan masalah baru atau bahkan memperparah keadaan.

Duluu... Saya juga orang yang protes terhadap demo mahasiswa, tapi setelah saya pelajari, saya mulai belajar bahwa saya harus cukup tahu diri untuk tidak menilai sesuatu dari apa yang terlihat saja. Mengontrol lidah saya mungkin jauh lebih baik. So, jangan asal demo! tapi harus yang terpelajar yaa.. HIDUP MAHASISWA!!! #SaveUnej J

Sayangi Anak Indonesia

Seperti yang sudah kita bahas di minggu lalu Marjinal identik dengan masyarakat kecil atau kaum yang terpinggirkan. Marginal karena mereka melakukan jenis pekerjaan yang  tidak jelas jenjang kariernya, kurang dihargai, dan umumnya juga tidak menjanjikan prospek apapun dimasa depan. Biasanya kita mengenalnya dengan sebutan anak jalanan/punk, arek kere, bahkan anak gelandangan. Sesungguhnya mereka adalah anak-anak yang tersisih , marginal, dan teralienasi dari perlakuan kasih-sayang karena kebayakan dalam usia yang relative dini harus berhadapan dengan lingkungan kota yang keras dan bahkan sangat tidak bersahabat. Namun, marjinal tidak selamanya kaum terpinggirkan juga sih, tapi kaum yang berani mengambil jalan hidup yang berbeda dari mainstream, terminologi marjinal itu pun menurut saya sama dengan orang-orang sombong yang merasa dirinya lebih baik dan merasa lebih punya power atas sekelompok orang pemberani.

Dan terus terang  ya gengs, aku kasih acungan jempol buat teman-teman yang hidup di jalan… Mereka punya kebanggaan, berpenampilan ngepunk, mereka tetap bertahan walau orang-orang sekitar yang melihat menilainya macam-macam. Bagiku itu sebuah bentuk perlawanan juga. Melawan pikiran-pikiran orang yang sudah dimapankan — yang menganggap negatif karena melihat penampilan orang lain yang beda, menyimpang, diluar kelaziman. Tapi yang lebih penting adalah nilai-nilai punk dalam prakteknya berkembang dalam kehidupan sehari-hari. Bagaimana mereka bisa survive, menjalin kebersamaan, saling peduli satu sama lain dan tetap mengunggulkan rasa dan kebebasan. Hidup di jalanan kan penuh tantangan. Apalagi sesusia mereka, ada yang masih anak-anak, yang orang bilang diluar kewajaran — ketika anak-anak yang lain kan sekolah, pulang ke rumah, bermain, latihan ini dan itu, les piano … Mereka hidup di jalanan mencari uang untuk membantu orangtua. Kadang dikejar dan digaruk trantib. Digertak atau diperas orang yang sok jagoan, macho… Tapi dalam posisi bertahan hidup di jalan, mereka mandiri, sehat, gembira, dan punya rasa humor. Dan itu, manusiawi banget!

Bagi mereka, anak punk sebatas tempat pelarian. Lari dari kesumpekan rumah. Lari dari tekanan hidup. Lari dari tanggungjawab. Lari dari kenyataan! Di kepala mereka, dengan berpenampilan diri seperti punker, mereka bisa bebas dari segala bentuk tekanan hidup, bebas semau-gue, bebas nenggak minuman atau menelan puluhan tablet dextro, bebas mengekspresikan diri sebebas-bebasnya walau masyarakat di sekitarnya terganggu. Dilain sisi jalanan adalah kehidupan. Di jalanan mereka bertemu dengan orang-orang, di jalanan mereka saling berbagi pengetahuan, di jalanan mereka berdagang, di jalanan mereka menyuarakan kebenaran melalui nyanyian.

Perjuangan kaum marjinal yang mungkin seringkali kita mengabaikannya bahwa kaum miskin, kaum marjinal, dan orang-orang yang tidak diperhitungkan di masyarakat ada karena kitalah yang menciptakan mereka. Terutama oleh struktur sosial, juga oleh saya, Anda dan kita semua. Sehingga, kita mempunyai tanggung jawab untuk membantu dan mengangkat derajat mereka. Santuni mereka yang membutuhkan bukan karena kasihan, tapi karena mereka adalah tanggungjawab kita. Hargai yang muda, hormati yang tua. karena kita duduk sama rendah berdiri sama tinggi.

Jalan raya bukanlah sekadar tempat untuk bertahan hidup. Bagi kaum muda tersebut jalanan juga karena untuk menciptakan satu organisasi sosial, akumulasi pengetahuan dan rumusan strategi untuk keberadaaan eksistensinya. Artinya ia juga berupaya melakukan penghindaran atau melawan pengontrolan dari pihak lain.
Pada saat krisis ekonomi, jumlah anak jalanan melonjak 400 persen. Sedangkan Departemen Sosial, tahun 1998 memperkirakan, jumlah anak jalanan mencapai angka 170.000 anak. Anak jalanan, secara umum akan dibilang anak jalanan yang masih tinggal dengan orantuanya atau keluarganya dan anak jalanan yang benar-benar lepas dari keluarganya serta hidup sembarangan di jalanan. Usia mereka 6-15 tahun. Negara memandang anak-anak dan kaum muda sebagai satu aset nasional yang berharga. Karena itu, investasi untuk menghasilkan peningkatan modal manusia (human capital) harus sudah disiapkan sejak sedini mungkin. 

Dalam hal tugas orang dewasa adalah melakukan penyiapan-penyiapan agar seorang anak bisa melalui masa transisinya menuju dewasa. Akibatnya ada pemisahan yang jelas antara masa anak-anak dan masa muda dengan masa dewasa. Adalah tugas orang tua untuk memberikan pemenuhan gizi yang dibutuhkan, mengirim ke sekolah sebagai bagian dari penyiapan masa transisi. Melalui UU No. 10/1992 diambil satu keputusan yang menjadikan keluarga sebagai alat untuk mensukseskan pembangunan. Keluarga tidak hanya dipandang memiliki fungsi reproduktif dan sosial, melainkan juga fungsi ekonomi produktif. Pengambilan keputusan keluarga dijadikan alat untuk mensukseskan pembangunan, pada gilirannya, membawa perubahan pada posisi anak-anak dan kaum muda dalam masyarakat.

Sebuah kategori sosial, anak jalanan, bukanlah satu kelompok yang homogen. Sekurang-kurangnya ia bisa dipilah ke dalam dua kelompok yaitu anak yang bekerja di jalan dan anak yang hidup di jalan. Perbedaan diantaranya ditentukan berdasarkan kontak dengan keluarganya. Anak yang bekerja di jalan masih memiliki kontak dengan orang tua, sedangkan anak yang hidup di jalan sudah putus hubungan dengan orang tua.

Namun, jangan khawatir lagi gengs.. sudah ada Sahabat Anak (SA) untuk meminimalisir anak jalanan yang awalnya tidak punya masa depan cerah, sekarang diberi kesempatan untuk mendapatkan hak itu. (SA) ini adalah sebuah yayasan nirlaba yang digerakkan oleh para sukarelawan, memperjuangkan terpenuhinya hak-hak anak marginal dan anak jalanan di Jakarta dan sekitarnya supaya mereka tidak terus hidup di jalan dan memiliki masa depan cerah. Saat ini, SA memiliki Bimbingan Belajar (Bimbel) gratis di tujuh area Jakarta, yaitu di Prumpung, Grogol, Cijantung, Gambir, Manggarai, Tanah Abang, dan Kota Tua, serta dua sekolah nonformal untuk remaja putus sekolah.  Sahabat Anak mendukung kampanye  “Stop Beri Uang, Jadilah Sahabat Anak”.

Gerakan yang dirintis sejak 1997 tersebut dimulai oleh sekelompok pemuda yang menjalin persahabatan dengan anak-anak kaum marginal melalui acara tahunan Jambore Anak Jalanan (sekarang dikenal sebagai Jambore Sahabat Anak).  Selama lebih dari 17 tahun keberadaannya, selain Bimbel, sekolah nonformal, dan TK/PAUD anak jalanan – SA juga secara rutin melakukan pembagian makanan/minuman bergizi, pengobatan gratis, kelas keterampilan (komputer, kuliner, musik, pertanian) serta pembekalan wirausaha.
Anak Indonesia Bermain Angklung
Dan Masih ingakah kalian? Dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional dan 69 tahun Kemerdekaan Indonesia, 1.000 anak marginal berkumpul dan bermain bersama dalam acara Jambore Sahabat Anak (JSA) 2014 yang diadakan di Bumi Perkemahan Ragunan, Jakarta Selatan. Kegiatan tahunan ini memberi petunjuk bahwa mereka pun berharga dan punya kesempatan yang sama untuk meneruskan tongkat estafet dalam pembangunan bangsa.


Menurut data Survey Sosial dan Ekonomi Nasional (Susenas) pada 2012, ada sekitar 50 juta anak Indonesia yang belum memiliki akta kelahiran. Berdasarkan data dari Kementerian Sosial RI, lebih dari 90 persen anak jalanan di Jakarta tidak memiliki akta kelahiran. Tanpa akta kelahiran, anak-anak marginal sangat rentan terhadap pelanggaran HAM. Tanpa akta kelahiran pula, hak asasi mereka untuk memperoleh layanan pendidikan formal hingga akses terhadap fasilitas kesehatan tidak bisa terpenuhi. Oleh karena itu, pengakuan identitas kewarganegaraan lewat pencatatan kelahiran menjadi sangat penting dan patut diperjuangkan.

Sabtu, 19 November 2016

Indahnya berhijab

Assalamualaikum....

*Gini guys, banyak dari teman-teman yang sudah tau tapi enggan berjilbab alasannya belum siap atau dari pada berjilbab tapi bejat, mending jilbabin hati dulu.. dan ada yang belum tau wajib hukumnya mengenakan jilbab.. bahkan setiap kali berbicara mengenai hukum wajib menggunakan jilbab sering kali ada perdebatan/pembantahan yang terjadi..”u
Vanilla Caffe
Beberapa waktu lalu saya lagi nongki di Vanilla Caffe, tanpa sengaja saya bertemu sama teman-teman lama waktu SMP. Akhirnya kami makan bareng dan sedikit curcol. Dari berbagai obrolan kami, akhirnya ia melontarkan satu pertanyaan. "Def, sekarang jilbaban terus ya?". Saat itu saya cuma tersenyum sebelum memberikan jawaban.
Memang sih kalau saat SMP saya gak pakai jilbab, tapi kalau udah pulang sekolah gitu selalu pakai jilbab. Soalnya harga seragam lengan panjang menurut saya saat itu mahal dari pada yang lengan pendek. Kasihan orang tua saya, akhirnya terpaksa saya pilih saja seragam yang tak berjilbab. Hal semacam itu sebenarnya sangat mudah menjawab pertanyaan yang sudah familiar di telinga saya.
Namun, sulitnya itu ketika harus meyakinkan orang lain tentang sesuatu hal dimana saya sendiri baru bisa meyakini diri saya sendiri setelah beberapa tahun menjalaninya. Jadi engga salah juga sih kalau masih banyak orang yang mempertanyakan keteguhan saya dalam memakai hijab ini hehehe. Bahkan saat diajak keluar sama kakak saya sebentar, entah ke ATM atau kemana gitu saya selalu pakai jilbab, dan itupun masih dikatain “dadak jilbaban!”. Nah ini nih yang bikin saya ketawa.
Memang, engga ada satupun dari kita yang mau dianggap sok suci. Tapi saat ini saya bisa mengatakan bahwa tampaknya keputusan untuk membuka hijab akan menjadi sebuah keputusan terbodoh yang bisa saya buat dalam hidup saya. Saat ini hijab bukan hanya sebagai sebuah kewajiban, tetapi menjadi bagian dari diri saya.
Dan untuk mencapai tahap tersebut bisa dibilang sangat jauh dari mudah. Setiap malam saya harus belajar ke madrasah dan tak mau telat hadir ketika ada pengajian. Biasanya sih mengenai seputar agama mulai dari saling berbuat kebaikan, cerita tentang para nabi, yang pasti mengingatkan saya tentang norma - norma dalam agama Islam.
Kebetulan hari itu, topik yang diangkat oleh pak ustadz dalam sebuah pengajian umum dalam rangka bersih desa adalah tentang kewajiban untuk menutup aurat bagi perempuan. Engga usah dibahas lebih dalam lah yaa disini tentang apa aja kewajiban kita sebagai perempuan untuk menutup aurat. Intinya, “Seorang wanita yang berjilbab ia akan mudah dikenal dan tidak akan diganggu”.
Engga lama sejak  itu, akhirnya saya benar-benar mencoba membandingkan bagaimana rasanya keluar rumah memakai jilbab dan tidak memakai jilbab diluar jam sekolah (saat itu masih SMP).  Dan ternyata fakta membuktikan ketika kita tidak memakai jilbab itu sangat tidak aman sekali, banyak gangguan yang saya alami ketika perjalanan. *serius. Padahal disitu jalannya juga ramai. Entah di “Suit-suit”, diikutin dari belakang, bahkan dicolek-colek. Lalu saya melewati jalan yang sama juga, ternyata ketika saya memakai jilbab sama sekali tidak ada yang menggoda. Jadi merasa aman kemanapun saya pergi. Disinilah saya mulai suka mendalami ajaran agama mengenai perempuan muslimah.
Walaupun terkadang saya juga masih melihat teman-teman yang belum memakai jilbab. yang selalu terlintas dalam pikiran saya, andai ya kita itu memakai jilbab dan berpakaian yang menutup aurat, menurut saya itu akan lebih bisa menyenangkan dan kitapun bebas berekspresi. Tetapi dengan cukup banyaknya teman saya yang berjilbab dan sekarang style hijab menjadi trending topik sehari-hari, membuat saya tidak ingin melepas hijab ini. Selain itu, saya semakin percaya diri. Inilah faktor utama tingginya keyakinan untuk menutup aurat.
Banyak sekali lontaran yang saya terima seperti "Mbak, cantiknya pakai jilbab. Pasti anak baik-baik", katanya sambil tersenyum. Mendengar hal itu, pandangan orang terhadap wanita yang berjilbab pasti dianggap wanita baik-baik. Padahal banyak sekali kekurangan dibalik jilbabnya tersebut. Saat itu saya langsung teringat dengan salah satu dp temen saya yang ada di BBM, “Kita dihargai bukan karena kita mulia, tetapi karna Allah masih menutup aib dan segala keburukan yang pernah kita perbuat, dengan menutup aurat”.
Menjadi mahasiswa di IAIN memberikan kebahagiaan tersendiri bagi saya. Tempat ini  merupakan awal dimana rasa percaya diri dan kenyamanan saya dalam memakai hijab meningkat dengan pesat. Banyak diantara mereka yang patut dijadikan sebagai role model dengan kelebihan yang mereka miliki.
Hal ini bukan hanya membuat saya merasa memiliki teman seperjuangan tetapi juga memicu saya untuk menjadi lebih baik dalam membawa hijab yang lebih baik. Saya menjadi tahu bagaimana cara mengontrol diri saya supaya tetap bisa menjalankan apa yang sepantasnya dilakukan oleh seorang perempuan berhijab. Baik dalam berpikir, berbuat maupun berucap.
Salah satu teman saya pernah mengatakan bahwa "Perempuan yang mengenakan hijab belum tentu lebih baik dari yang mereka yang tidak mengenakannya". Saya setuju dengan pernyataan tersebut, dan saya yakin banyak orang di luar sana yang sependapat dengan itu ketika melihat hijaber yang seperti saya ini. *Hehehe... Bagaimanapun orang memandang hijab, saya yakin setiap orang punya cara dan pikirannya masing - masing.
Satu contoh sederhana adalah ketika kebanyakan orang belajar supaya bisa menjadi sempurna baru kemudian mengenakan hijab, namun disini saya justru memilih belajar banyak dari hijab supaya bisa menjadi orang yang lebih baik dan berakhlak. menurut saya saat ini hijab adalah guru terbaik bagi saya setelah bunda saya dan pengalaman yang saya lalui. Hijab bukan hanya memberi banyak pembelajaran dari segi agama, tetapi juga secara keseluruhan.

Disini satu hal yang perlu saya tekankan adalah menjadi lebih baik bukan berarti sempurna, sempurna itu hanya milik Allah SWT. Masih inget pepatah jaman SD kan, bahwa tidak ada gading yang tak retak? Jadi baik saya, para perempuan berhijab lainnya, maupun yang engga berhijab, kita semua, pasti tetap banyak kekurangannya. Engga perlu takut dengan kekurangan, karena dengan itu bisa menyadarkan kita untuk belajar supaya bisa lebih dari itu. Dan yang lebih penting lagi, sebuah pembelajaran itu engga selalu berjalan sebentar, tetapi kadang memerlukan proses yang panjang supaya bisa bertahan lama. Nikmati aja proses itu, engga usah dihiraukan apa kata orang tentang kita dan proses yang kita jalani. Karena orang lain hanya bisa melihat apa yang mereka  lihat dan apa  yang mereka dengar, tetapi engga merasakan apa yang kita alami sebenarnya. So, don’t worry guys! Tetep menjadi diri sendiri, yang mau berubah lebih baik. Happy weekend J

Sabtu, 29 Oktober 2016

Kesadaran hukum dikalangan mahasiswa

Tema: Penegakan Hukum dan Kepatuhan Hukum Masyarakat.

Didalam masyarakat pasti ada hukum yang berlaku, entah itu hukum yang dibuat oleh negara maupun hukum dari masyarakat itu sendiri atau biasa kita kenal dengan hukum adat. Namun, disini saya akan membahas tentang penegakan hukum oleh negara dan bagaimana sikap masyarakat terhadap hukum yang telah dibuat. Apakah mereka mematuhi atau masih saja ada yang melanggar. Saya wawancara dengan teman se-kampus mengenai kepatuhan terhadap hukum. Saya berbicara kepada mereka ketika kita lagi makan bareng, nongki bareng dan juga jalan-jalan. Dengan begitu ngobrol kita akan lebih santai.

Kepada yang mematuhi aturan:


Fikri Zaky Mochtar adalah salah satu mahasiswa IAIN jurusan Ekonomi Syariah semester 5, dia mengetahui aturan lalu lintas dan sanksi apa yang akan diterima jika ia melanggar, dia mematuhi peraturannya agar tidak ditilang sama polisi lalu lintas, bahkan selama ini dia tidak pernah melakukan pelanggaran apapun, karna semenjak dia dibebaskan membawa kendaraan bermotor dia langsung antusias membuat SIM untuk kelengkapan dalam berkendara.
Nah ini sahabatku dari aliyah, kami kebetulan lagi temu kangen di vanilla cafe. Namanya Miftakhul Fauziyah, dia adalah salah satu mahasiswa IAIN jurusan Ekonomi Syariah semester 5 juga, dia mengetahui aturan lalu lintas dan sanksi apa yang akan diterima jika ia melanggar, dia mematuhi peraturannya agar tidak ditilang sama polisi lalu lintas, namun dia pernah melakukan pelanggaran juga waktu SMA, waktu itu dia sangat terburu-buru karena bangun kesiangan, akhirnya lupa SIM.nya ketinggalan. Sampai di perempatan tamanan ternyata ada polisi tilang. Tanpa banyak biacara dia langsung aja tuh nyogok polisi pakai uang lalu pergi. Wkwkw... Kalian pasti tau kan MAN 1 TA itu ketatnya gimana?  pilih bayar polisi daripada harus telat, soalnya hukumannya itu yang super sekali. Hehehe... itu cerita yang tak pernah ia lupakan (katanya) meski cuma sekali ia melanggar.

Ranugumbolo
Ini dia Lintang Mahardika, seorang  mahasiswa IAIN jurusan Tadris Matematika semester 5, dia sama seperti Fikri juga, dia mengetahui aturan lalu lintas dan sanksi apa yang akan diterima jika ia melanggar, dia mematuhi peraturannya agar tidak ditilang sama polisi lalu lintas, karna dia takut banget sama yang namanya polisi. Bahkan selama ini dia tidak pernah melakukan pelanggaran apapun. Apalagi kalau mau diajak keluar pakai montor, dia gak akan mau kalau yang ngajak gak punya SIM. Padahal jalanan yang akan dilewatinya gak ada pos polisi.


Kepada yang melanggar aturan:

Masjid Agung Alun-Alun Jombang
Hidayatun Nasikhah ini juga seorang mahasiswa IAIN jurusan Zakat & Wakaf semester 5. Kalau ditanya soal UU lalu lintas dia hanya sekedar mengetahuinya saja, jika melanggar ya akan ditilang. Prinsipnya ia akan patuh saat berkendara jika setiap hari didekat kampus ada polisi tilang, karna baginya membawa helm itu memberatkan, apalagi rumahnya dekat kampus. Jadi yang penting dia sampek kampus dengan montornya itu tanpa memperdulikan keadaan tak terduga jika terjadi kecelakaan misalnya. Tapi dia pernah kok mematuhi peraturan, saat berpergian ke kota saja. Itupun dengan alasan karna di kota banyak pos polisinya.



Dwi Sholichah Ning Tyas

Dwi Solichah Ningtyas, jurusan Perbankan Syariah semester 5. Dia ini termasuk rumah terdekat dengan kampus. Mengenai kesadarannya terhadap hukum, seperti halnya berlalu lintas, ia sebenarnya mengetahui aturan yang dia langgar. Namun dia akan patuh pada peraturan jika ada polisi yang selalu berjaga dipinggir jalan, dan ia juga pernah mematuhi peraturan, saat berpergian ke kota juga. Katanya, kalau didekat-dekat kampus saja tidak perlulah membawa SIM. 

Berdasar hasil wawancara diatas, hukum sebenarnya sudah ditegakan sedemikian rupa untuk menciptakan ketertiban khususnya dalam berlalu lintas. Menurut mereka yang mematuhi peraturan, bahwa mereka tahu betul bagaimana proses dan sanksi yang akan mereka timpa jika sampai melanggar. Seperti hal sepele saja lupa tidak membawa SIM, maka akan dipastikan sudah berapa ratus ribu yang ia bayar nantinya jika ada penilangan. Hal itu membuat  sepanjang perjalanannya akan merasa cemas dan penuh khawatir. Apalagi melihat polisi yang padahal hanya berjaga dipos polisi. Untuk mengantisipasi kejadian yang tidak diinginkan maka mereka mematuhi aturan lalu lintas. Bagi yang melanggar, mereka sebenarnya juga mengetahui aturan pelanggarannya. Mereka mengetahui jika tidak membawa SIM akan dikenakan berapa, jika lampu tidak dihidupkan di siang hari akan dikenakan berapa, bahkan jika tidak memakai helmpun juga akan dikenakan berapa. Hal itu mereka tahu! Namun mereka  tidak memakai itu semua karena mereka berpikir kalau berkendara disekitar kampus saja tidak ada masalah. Dijamin tidak akan ada polisi tilang. Biasanya juga ada sih, tapi jaraknya masih jauh dari area kampus. Sedangkan mereka bisa lewat jalan belakang. Sehingga tidak ada masalah jika mereka tidak membawa SIM maupun helm. Mereka akan  membawa itu jika hendak pergi kekota saja atau sekiranya melewati jalan raya yang biasanya ada polisi yang berjaga. Namun menurut saya, memakai helm adalah suatu kebutuhan. Jika dibandingkan hanya karna tidak ada polisi kita tidak memakai helm, keselamatan diri kita sangatlah berharga. Apalagi dijalan sekitar kampus banyak sekali kendaraan yang melaju cepat. Sehingga jika terjadi apa-apa atau kecelakaan kecil maka kepala kita yang mungil ini akan tetap terjaga. Bukankah begitu?

Nah, sekarang saya akan berbagi pengalaman pribadi saya tentang kepatuhan mencontek. Sejujurnya saya pernah mencontek tapi hanya sekali dalam perkuliahan. Waktu semester 1 kemarin ketika saya tidak mampu mengerjakan karena tidak belajar, Akhirnya saya membuat tulisan kecil diselembar kertas. Meskipun nilainya bagus tapi saya tidak puas juga dengan hasilnya. Rasanya ingin ujian ulang. Lalu setiap kali ujian, saya selalu berusaha semaksimal mungkin agar tidak mencontek lagi. Sehingga apapun hasilnya saya akan merasa puas. Dan alhamdulillah hasilnya tidak kalah bagus dari kebiasaan sebelumnya yang hanya mengandalkan contekan. Nah buat kawan-kawanku “Yakinlah, setiap kita mau berusaha pasti akan ada kemudahan”  Namun teman saya tetap masih ada juga yang mencotek, entah itu dari kertas kecil maupun handphone. Melihat dosen yang hanya diam saja itu bikin saya bete! merasa gak adil banget. Saya udah susah-susah belajar tapi mahasiswa yang mencontek malah dibiarkan. Harusnya sebelum ujian dimulai untuk semua mata kuliah, dosen & mahasiswa membuat kesepakatan, jika ada yg mencontek langsung diberi nilai (-) dengan begitu mereka akan mempersiapkan diri lebih awal agar tidak ada yang mencontek saat ujian.  Selain itu, agar mahasiswa lain yang terbiasa mencontek lebih baik setiap kali ujian pakai lisan saja biar lebih efektif. Karena akan kelihatan mana yang belajar dan mana yang tidak belajar. Tapi disini saya masih heran guys, kenapa setiap mata kuliah sosiologi hukum ketika kuis berlangsung mulut saya tiba-tiba terbungkam hebat. Padahal sudah saya persiapkan materi yang akan dikuiskan nanti dikelas. Bahkan udah diluar kepala. Wkwkwkw.... Dan paling sebel lagi, pas ni tangan udah mau diangkat keatas, Eeet....diduluin mahasiswa lain. Mau ngangkat tangan kloter berikutnya jadi kurang pede (langsung blank) Heem... Mungkin Ibu dosen yang cantik bisa mengubah aturan dikelas nih,  bagi yang sudah sering jawab kuis sementara waktu tidak boleh angkat tangan. Agar mahasiswa lain juga bisa mendapatkan poin. Hehehe.....#Saran tipis-tipis.

Dari semua mata kuliah semester 3 ini, saya lebih suka dengan matkul soshum. Entah kenapa, saya merasa materi ini sangat menarik sekali untuk dikaji. Apalagi dosennya yang sangat super, membuat saya terus semangat belajar. Meskipun tidak pernah menyuruh mahasiswanya menulis, tapi apapun yang beliau katakan, dalam diri kita itu ada dorongan yg harus kita tulis. Jika semua dosen menerapkan hal demikian, seperti adanya kuis, membuat tulisan dalam bentuk artikel, saya kira tidak akan ada lagi mahasiswa yang mencontek saat ujian.

Senin, 17 Oktober 2016

Kisahku

Sejak Adanya Gadjet
Assalamulalaikum wr.wb
Saya akan menceritakan kisah singkat hidup saya menginjak usia remaja hingga saat ini.....

Nama saya Devi Tiyas Saputri, biasa dipanggil Devi,  saya lahir pada tanggal 2 Desember 1995 di Tulungagung. Sebentar lagi ulang tahun udah kepala dua lho....buat yang baca ceritaku jangan lupa ngasih kado yaa J Heemb..  Masa kecil saya tidak jauh beda dengan anak – anak lainnya sih,artinya normal, tidak lain dari yang lain...Wkwkwkw....

Permainan zaman dulu sangatlah berbeda dengan permainan anak zaman sekarang atau biasa kita sebut dengan gadjet. Apa yang dulu tidak penting sekarang jadi penting. Bahkan yang dulu tabu sekarang menjadi wajar. Seperti sekarang ini yang kita lihat “Celana Pensil” dahulu dianggap tidak sopan bagi perempuan yang memakainnya. Namun sekarang Celana Pensil bukan lagi hal yang tidak wajar, semua perempuan  kebanyakan pasti memilikinya.

Ada sedikit cerita nih, Internet adalah ketika saya masih duduk dibangku Sekolah Menengah Pertama (SMP), kira-kira 7 tahun yang lalu. Saya pertama mengenal internet ini melalui teman saya, namanya santika arnindy (sekarang kuliah di Universitas Jember jurusan akutansi) karena teman saya yang memberitahukan bahwa bermain internet itu menyenangkan. Dan pada saat itu masih boomingnya penggunaan jejaring sosial Facebook. Saya mulai membuat e-mail lalu saya membuat akun Facebook. Pada saat itu saya bersama teman-teman saya berlomba untuk mendapatkan teman terbanyak, untuk ajang pamer gitu hohoho.... Sejak saat itu saya jadi sering pergi kewarnet dan pada saat itu lah mungkin saya berada pada tingkat teralay, hahaha... Saya sering senyum-senyum sendiri apabila mengingat tentang hal itu, sebenarnya malu juga sih hahaha... tapi ya sudahlah semua orang juga pasti pernah mengalami fase hidup seperti itu.

Karena terlalu seringnya saya pergi kewarnet kadang saya jadi bosan karena hanya mengotak-atik akun Facebook saya. Lalu saya melihat teman saya asik sedang main Game/PS-an. Nahh akhihnya saya mengikuti jejak teman saya untuk bermain game juga (maaf ya gak kreatif cuma ikut-ikutan temen hehe..) . Game yang pertama kali saya mainkan adalah Popeye. Game ini sebenarnya hanya game biasa, yaitu mencuri koin mas didalam rumah dan menghindari kejaran tuan rumahnya. Jika kita ketangkep maka kita akan mati. Cukup membuat ketagihan juga memainkan game seperti itu.

Setelah itu saya mulai mengenal luas internet dan mengetahui bahwa isi dari internet bukan hanya berisi tentang Jejaring Sosial dan game online saja namun banyak juga terdapat situs-situs yang bermanfaat bagi kita. Dan saya juga mulai terbiasa mencari tugas dari guru menggunakan internet.

Namun memasuki kelas 3 pada waktu SMP saya mulai jarang pergi kewarnet, hal itu dikarenakan saya sudah mulai fokus pada Ujian Nasional sehingga harus meninggalkan dunia maya yang sangat menyenangkan ini (lebay haha....). Selain itu saya juga mulai merasa kantong saya makin tipis karena sering kewarnet, dan waktu itu saya merelakan untuk tidak makan pada jam istirahat karena uangnya ingin saya gunakan untuk bermain diwarnet (jangan ditiru ya teman-teman hihihi..).

Setelah memasuki Sekolah Menengah Atas (SMA) saya masih menggunakan internet jika ada hal yang penting-penting saja, misalnya mengerjakan tugas atau sedang tidak ada kerjaan, yang jelas jarang banget deh pakai internet. Namun setelah mulai tenarnya situs jejaring sosial yang baru yaitu Twitter, saya jadi sering lagi pergi kewarnet karena teman-teman saya sudah membuat akun pada Twitter ini (gak mau kalah cooy...). Namun kali ini saya sudah tidak terlalu berlebihan dalam memainkan situs jejaring sosial ini, sudah dewasa jadi sudah agak mengerti, malu dong udah punya pacar, hahaha... karena semakin meluasnya dan tenarnya Twitter ini, dan semakin sulitnya mencari warnet yang kosong, selanjutnya saya minta kepada orang tua saya untuk dibelikan handphone yang bisa digunakan untuk akses internet (untuk cari-cari tugas alasanku, hehehe...). Setelah merengek-rengek dan berpura-pura ngambek akhirnya dibelikan juga (terimakasih bapaak :*). Setelah dibelikan handphone yang bisa digunakan untuk mengakses internet ini saya jadi lebih jarang lagi bahkan hampir tidak pernah kewarnet karena saya bisa mengakses situs Facebook dari handphone saya, jadi sekarang saya tidak tertinggal informasi dan tahu gosip-gosip teman saya melalui status-status di Facebook hihihi....

Internet memang sangat membantu kita semua, dalam internet kita dapat menemukan apa saja yang kita inginkan, misalnya situs terpopuler sampai sekarang, www.google.com. Siapa yang tidak tahu situs google, semua orang mencari informasi melalui situs tersebut.

Seperti itulah pengalaman saya tentang internet. Dan sampai saat ini penggunaan internet bagi saya sangat penting, internet sudah menjadi kebutuhan sehari-hari, apalagi saya kuliah, hal ini membuat saya tidak bisa jauh dari intenet. Parahnya lagi, semenjak applikasi android semakin hits.. “Instragam misalnya” applikasi itu merubah semua diri saya menjadi kekinian. Dari mulai fashion, make up, tempat nongkrong, baik berburu kuliner maupun hunting membuat saya tidak mau ketinggalan jaman (malu dibilang kudet sih..wkwkwkw).

fase change style
Dulu awalnya saya itu anak pendiem, gak mau kalau disuruh make up-an ala korea J soalnya udah cantik sih. Banyak orang bilang keturunan china (bilangnya dulu waktu SMP gengs, hahaha...) . Zaman dulu saya sangat dekat sekali dengan tetangga, dari ujung timur sampai ujung barat J, setiap siang-sore selalu main kerumah tetangga, bahkan malam pun juga begitu. Karna kebersamaan bersama teman itu sangat menyenangkan. Dulu itu kalau ingin bertemu ya harus kerumahnya meski jarak dengan rumah kita lumayan jauh. Namun seiring berjalannya waktu, seperti yang saya ceritakan tadi “Gadjet” itu membuat saya jauh dari temen-temen yang ada dirumah, kita kumpul hanya waktu hari raya idul fitri saja gengs L bahkan kalau bertemu sekalipun, hanya sepatah kata saja yang diucapkan selanjutnya kita sibuk sendiri dengan HP (Soalnya lupa juga sama namanya, daripada salah bicara hahaha..)

Dengan gadjet kita lebih dekat dengan teman yang jauh daripada yang dekat rumah, tidak perlu lagi datang kerumahnya kita bisa ngobrol rame-rame. Meski mereka tidak ada disamping kita tapi mereka selalu bisa membuat kita enjoy, selalu bikin ketawa sepanjang hari (pake vidio call). dengan teman yang jauh-jauh begitu bisa membuat kita saling belajar, tukar pikiran, bisnis online sekaligus ajang cari pacar wwkwkkw.. Terbukti nih! Waktu saya lagi putus cinta setahun yang lalu saya bergerak lagi di medsos (FB) tiba-tiba ada yang ngechat namanya “Chinoda” aneh banget akunnya yak (?) nama aslinya sih w*hy*. Dan ternyata....... tuh cowok temen lama waktu TK gengs. Akhirnya kita tukar pin lalu tak lama kemudian kita pacaran deh “LDR” (up).


Selain itu, sekarang saya bisa cari uang sendiri dari hasil bisnis online. Cukup lumayan sih pendapatan ekonomi perbulan bisa buat beli baju, traveling & nongki. Standart menengahlah yaw J perubahan yang saya alami sekarang ini wajar aja sih, teknologi dan fasilitas semakin dipermudah sekali sehingga tidak perlu keluar kota tinggal diposkan langsung sampai. Apalagi dengan adanya Gogle Maps kita bisa kemana aja yang kita inginkan. Jadi beruntunglah kalian yang hidup dizaman modern ini, semua sudah disediakan oleh pemerintah tinggal bagaimana kita menyikapinya. Harus bisa pilah memilih loh yaa, mana yang baik dan yang buruk. Okay..!!!!!!! see you bye guys di blog saya J Lvyu!

Senin, 10 Oktober 2016

Ini ceritaku mana ceritamu?

Pengalaman Terhadap Pelanggaran Kaidah Sosial
Kamu pernah ditilang? Errr… saya...  eh..um.. saya pernah kalo gak mau dibilang sering sih, hehehe.. Nah, kalau ditilang biasanya kamu milih apa? Titip sidang a.k.a bayar ditempat? Atau malah memilih ditilang saja? Well, saya mau berbagi cerita dikit yaaa. Tulisan ini saya buat setelah pulang dari Kota Malang. Ceritanya, saya lagi jalan-jalan bersama p*c*r nih, saat melewati area Alun-alun Batu tiba-tiba ada polisi yang mengejar kita. Eh.. ternyata plat montor gak terpasang. Kita akhirnya berhenti dan dibawa kekantor polisi. Dia terlihat gelisah karena terkena tilang dan bertanya-tanya dalam hatinya mengenai denda yang harus dia bayar.

Menurut UU Lalu Lintas Nomor 22 Tahun 2009 yang sudah diberlakukan sejak mulai Januari 2010 dan merupakan pengganti UU sebelumnya yaitu UU Nomor 14 Tahun 1992. Kami melanggar 2 pasal sekaligus loh! yakni pasal 280 & pasal 288.  Yang berisi :
Plat nomor tidak standar
Menurut Pasal 280, setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor di jalan yang tidak dipasangi Tanda Nomor Kendaraan Bermotor yang ditetapkan oleh Kepolisian Negara Republik Indonesia, dipidana dengan pidana kurungan paling lama 2 (dua) bulan atau denda paling banyak Rp. 500.000 (lima ratus ribu rupiah).
Tidak Membawa SIM
Menurut Pasal 288, setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor di jalan yang tidak dapat menunjukkan Surat Izin Mengemudi yang sah, dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) bulan dan/atau denda paling banyak Rp. 250.000 (dua ratus lima puluh ribu rupiah).
Dari pada menunggu dan mendapat slip biru atau merah, kita nanti akan dikenakan denda maksimal juga deh. Wait, trus apa beda slip merah dan slip biru gens?

Tilang dengan slip biru
Jika kita memilih ditilang dengan slip biru, itu artinya kita mengaku bersalah dan bersedia membayar denda langsung ke bank milik pemerintah yang ditunjuk. Ada sisi enak dan gak enaknya sih. Well, enaknya sih gak perlu datang sidang, yang artinya  tidak perlu meluangkan waktu cuti atau ijin dari kantor untuk menghadiri sidang ya brow, secara kita eh maksudnya saya ini masih mahasiswa, berasa rugi banget deh kalau  izin buat ginian doank kan J So, tilang slip biru ini memudahkan kita. Tapi mahal bangeeeett..

Lalu, bagaimana nasib SIM atau STNK kita?
Nah, setelah membayar denda tilang di bank pemerintah yang ditunjuk, maka kita bisa mengambil SIM atau STNK di kantor polisi yang telah ditetapkan, biasanya sih kantor polisi terdekat pada saat kita melanggar. Jangan kwatir, di surat tilang dituliskan koq kita bisa tebus SIM atau STNK kita dimana plus nominal dendanya, dan biasanya pak polisi pun memberitahukannya secara lisan pada kita. Tentu saja,jangan lupa tunjukkan bukti pembayaran denda tilang dari bank yah. Daaaan… setelah itu, SIM dan STNK kita kembali ditangan deh.  Proses ini juga termasuk mudah dan ringkas lho walau memang menguras kantong ya broow.
Tapi ada yang perlu dicatat dari tilang slip biru:
Usahakan bersegera membayar dendanya di bank karena jika kita lambat membayarnya, maka SIM atau STNK kita nantinya akan dilimpahkan ke kejaksaan.

Tilang dengan slip merah
Nah, apabila kita memilih ditilang dengan slip merah, itu artinya kita tidak mengakui kesalahan. Akibatnya,  kita harus datang ke pengadilan setempat yang ditunjuk untuk mengikuti sidang. Sama seperti tilang slip biru, SIM atau STNK kita akan diambil lalu diberikan selembar surat tilang berwarna merah. Di dalam surat tilang, dituliskan tanggal dan waktu sidang beserta nama pengadilannya. Namun perbedaan nyata dari slip merah dan slip biru adalah jika ditilang dengan slip merah maka jumlah denda tilangnya dapat saja lebih murah atau bahkan NOL rupiah. Tergantung polisinya yang menilang J

Sedikit curcol nih, saat itu juga p*c*r gue langsung berlagak melas dihadapan polisi sambil nunjukin uang 100rb-an didompet, dan itu uang satu-satunya buat pulang ke Tulungagung. Padahal disaku masih banyak. Wkkwkwkw.....

Karena saat itu yang terkena tilang buanyak, dia langsung saja menghampiri polisi lain dan bilang kalau sudah keruangan sebelah. Padahal  belum *eet J dia bilang hanya disuruh bayar. Akhirnya dia kena tilang Rp.200.000,- .


Astagaaaa….. untuk melanggar jalan saja, kita kena denda 200rebu broow…. DUA RATUS RIBUUUUU!!! (Melambaikan tangan kepada dua pasang sepatu Char*** & Kei** sambil terisak-isak). Hahaha terkesan lebay? Enggak ah, whoooaaaa sapa sih yang gak lebay kehilangan 200 ribu hanya karena PLAT gak terpasang dan lupa gak bawa SIM? Well, untuk mahasiswa seperti saya inih, 200rebu itu berarti banget! *elus-elus dada #cengir*. Padahal tuh uang buat kita shoping sama makan sate kambing!!!

Sambil muka panik, saya nungu aja diluar. Tiba-tiba ada pasangan suami istri gitu abis keluar dari ruangan. Terus saya tanyain, kena berapa mbak? Kesalahannya apa? Gak bawa sim? Helm? Atau apa? Cuma gak pake helm mba.....padahal surat-surat semua lengkap, sim juga bawa, helm juga SNI.. hmm.. Ternyata mereka itu juga pendatang yang iseng-iseng aja ga pake helm buat beli makanan, karna jarak penjual dan rumah sodaranya itu deket.

Bayangkan gengs???? Cuma gitu doang polisi udah gamau tau! Akhirnya mereka langsung menuju aja ke ATM terdekat buat ambil tunai Rp.500.000,- . Waw, dalem hati guwe nih, pinter juga si p*c*r bisa ngelabuhi polisi. Kita udah nglanggar double tapi Cuma kena 200rebu J. Untung*

Setelah itu kita keluar dan langsung cabut aja biar gak ketahuan. Soalnya polisi yang menilang kita waktu itu sedang mengurusi orang lain juga yang melanggar. Yang penting STNK udah ditangan. Aman!!! Tapi kalo dipikir-pikir nih ya,  mending uang yang hilang sih, daripada harus ngurus sidang. Apalagi montornya hasil pinjem dari temen kos. Hahaha.... pasti tambah ribet aja. Ya.... kalo itu montornya sendiri ga masalah guys! Nah ini udah minjem dikenain tilang, duh gak kebayang -_-
 
Abis ketilang masih sempet foto J
Sampai saat ini yang ada dalam fikiran saya, uang hasil tilangan ditempat kemarin  itu kemana yaaa...? Padahal sudah diatur jelas dalam UU Lalu Lintas, polisi hanya sebagai alat tata tertib dimasyarakat dan jika melanggar maka harus menjalani persidangan. Dan hal semacam ini bukan hanya di Batu aja loh, disemua daerah seperti ini. Setiap kali melaggar maka kalian akan langsung mengeluarkan uang saja untuk mereka, beres! Parahnya lagi kalo yang jadi polisi itu sanak saudara sendiri, mau melanggar kayak apa “sudah, jalan aja!”. Jadi tidak heran, jika UU yang disahkan itu tidak berlaku lagi dengan kenyataan dimasyarakat.

So...Hati-hati guys, jangan melanggar peraturan yah. Tapi, kalaupun melanggar, udah tahu kan sekarang? Tetap saja ngluarin uang. J Drive safe dear!