Selasa, 06 Desember 2016

Aksi Mahasiswa Akibat G-212

Masyarakat di manapun pasti terbentuk dari individu-individu. Individu-individu yang terdiri dari berbagai latar belakang tentu akan membentuk suatu masyarakat heterogen yang terdiri dari kelompok-kelompok sosial. Dengan adanya atau terjadinya kelompok sosial ini maka terbentuklah suatu pelapisan masyarakat atau terbentuklah masyarakat yang berstrata. Dalam masyarakat tradisional terdapat tingkatan-tingkatan yang tersusun secara vertikal. Posisi seseorang dalam suatu tingkat ditentukan oleh seberapa banyak ia memiliki sesuatu yang memiliki nilai lebih, masing-masing tingkatan dan golongan memiliki hak dan kewajibannya sendiri-sendiri.

Dilingkup mahasiswa, “Dosen” termasuk stratifikasi berdasarkan tingkat pendidikan yang selalu kita patuhi dan selalu dianggap benar. Semakin tinggi pendidikan yang dimilikinya, semakin tinggi pula kedudukan sosial dihadapan mahasiswa. Menurut saya, dosen adalah seorang pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Dengan keberadaan dosen kita akan lebih mudah menangkap informasi yang benar dan yang salah.


Namun dalam berita terbaru yang saya dapat, mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya (FIB) dan Fisip Universitas Negeri Jember (Unej) menggelar aksi damai di kompleks kampus.  Selasa (6/12/2016). Dalam keterangan pers selebaran menyebutkan, aksi ini dipicu munculnya gerakan diskusi G-212 yang digagas oleh sejumlah dosen. Mahasiswa menyebut gerakan G-212 dimanfaatkan oleh oknum dosen yang tak terima pasca penetapan dekan oleh Rektor Unej beberapa waktu lalu. Peristiwa tersebut diduga mengintimidasi mahasiswa agar mengikutinya, disisi itu ada pemaksaan yang dilakukan dosen pengampu kepada mahasiswa dengan ancaman akan dicoret dari presensi mata kuliah bilamana mahasiswa yang bersangkutan tak mengikuti forum G-212 tersebut. “Kata Koordinator Aksi, Achmad Faizal B ditengah aksi demonstrasi di Gedung Fisip kampus Unej”.

Aksi ini juga diawali dari Gedung Rektorat Kampus Unej, kemudian massa melakukan longmarch dengan mengelilingi beberapa fakultas. Selain membentangkan spanduk bertuliskan kecaman, mereka juga melakukan orasi dan meminta tanda tangan dukungan dari Civitas Akademika Kampus Tegal Boto. Sebelumnya, keputusan Rektor Unej Mohamad Hasan yang menetapkan Ardianto sebagai Dekan Fisip dan Sofyan menjadi Dekan FIB berbuntut panjang.

Sejumlah mahasiswa dan dosen di FISIP dan FIB Unej menggelar aksi demontrasi. Mereka memprotes keputusan Rektor Unej karena dinilai tak sesuai dengan hasil pemilihan di tingkat Senat Fakultas. Namun terkait pemilihan itu, Penasehat Hukum Unej, Nurul Ghufron mengatakan, penetapan kedua dekan tersebut telah sesuai dengan peraturan yang berlaku. Yakni, Peraturan Menteri Pendidikan nomor 67 tahun 2008 serta Peraturan Rektor Unej periode sebelumnya, tentang pengangkatan dan pemberhentian dosen sebagai pimpinan fakultas.

Koordinator aksi, Gesang Suryandaru mengatakan, dalam aksi kali ini mereka membuat petisi yang berisi tiga poin. “Pertama, oknum dosen yang tergabung dalam G-212 wajib berbenah diri. Selanjutnya, mahasiswa meminta aksi provokasi yang dilakukan oknum dosen segera dihentikan karena mereka menilai forum diskusi tersebut adalah provokasi yang bertopeng kegiatan akademis. Dan yang ketiga kami menuntut oknum dosen G-212 meminta maaf kepada mahasiswa yang menjadi korban intimidasi secepatnya,” kata Gesang.

Menanggapi tuntutan mahasiswa itu, Rektor Unej Mohamad Hasan mengatakan, akan merespon tuntutan mahasiswa dengan menelusuri kebenaran informasi yang diterima. Karena menurutnya, sebagai lembaga pendidikan, Unej membuka ruang bagi civitas akademika untuk membuat berbagai forum diskusi dan penyampaian pendapat, selama hal tersebut tidak bertentangan dengan semangat pendidikan dan demokrasi itu sendiri.

Dunia kampus yang notabenenya adalah sebagai tempat transfer of knowledge and caracter building (memberikan ilmu pengetahuan dan membangun karakter), namun kini sudah menjadi tempat untuk melahirkan generasi-generasi yang apatis, hedonis, serta individualis. Padahal Esensi dan Subtansial mahasiswa adalah generasi yang kritis dan mengedepankan kebenaran yang hakiki.

Mahasiswa memiliki beban moral menjadi penengah antara kaum elite dan kaum bawah, mahasiswa juga sebagai mediator publik. Mahasiswa sebagai kontrol sosial dapat memainkan perannya sebagai alarm dan peran mahasiswa sebagai palu. Sebagai alarm mahasiswa berfungsi sebagai pemberi sinyal adanya kesenjangan antara harapan publik dan penguasa sebagai pemberi hak publik. Secara otomatis, sinyal itu menjadi alarm bagi pemerintah untuk melakukan koreksi diri.

Bahkan jika saya yang menjadi salah satu dari mahasiswa dalam forum tersebut, penyelenggaraan forum G-212 itu sangat merugikan mahasiswa. Sebab, agenda perkuliahan menjadi terganggu karena para dosen di perkuliahan lebih memilih menghadiri forum tersebut dan tidak memberi hak-hak perkuliahan sesuai mata kuliah yang sedang ditempuh. Jika mereka tidak melakukan demontrasi maka pada dasarnya mereka telah menaklukan dirinya pada orang lain yang memiliki kekuasaan formal sehingga tanpa disadari haknya sebagai seorang mahasiswa akan hilang. Untungnya mereka semua memiliki kesadaran yang tidak hanya mengetahui tapi mereka juga berdaya mengambil sikap dalam menuntut haknya.

Menyandang gelar mahasiswa merupakan suatu kebanggaan sekaligus tantangan karena tanggung jawab yang diemban oleh mahasiswa begitu besar. Pengertian mahasiswa tidak bisa diartikan kata perkata. Mahasiswa adalah seorang agen pembawa perubahan. Mahasiswa menjadi seorang yang dapat memberikan solusi bagi permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat di daerah maupun bangsanya.

Mahasiswa juga memiliki berbagai macam label yang melekat pada diri mahasiswa diantaranya : mahasiswa sebagai Direct Of Change (melakukan perubahan langsung) karena sumber daya manusia (SDM) yang dimiliki diatas rata-rata masyarakat biasa pada umumnya. Mahasiswa sebagai Agent Of Change (pembuat perbahan),  maksudnya sumber daya manusia yang dimiliki mahasiswa ini untuk melakukan perubahan. Mahasiswa sebagai Iron Stock, artinya sumber daya manusia dari mahasiswa tidak akan pernah habis. Mahasiswa sebagai Moral Force, artinya mahasiswa itu kumpulan orang yang memiliki moral yang baik. Mahasiswa sebagai Social Control (pengontrol kehidupan social), contohnya mengontrol kehidupan sosial yg dilakukan pemerintah terhadap setiap kebijakan.

Mahasiswa sebagai orang yang disebut-sebut sebagai insan intelektual, haruslah dapat mewujudkan status tersebut dalam ranah kehidupan nyata. Dalam arti menyadari betul bahwa fungsi dasar mahasiswa adalah bergelut dengan ilmu pengetahuan dan memberikan perubahan yang lebih baik dengan intelektualitas yang dimilikinya selama menjalani pendidikannya tersebut.

Fakta ini membuktikan bahwa mahasiswa sebagai kontrol sosial menjadi garda terdepan dalam menjaga kestabilan sosial. Fungsi taktis yang menopang peran mahasiswa dalam mengawasi akademis bukan tanpa masalah. Saat ini mahasiswa mulai kehilangan format gerakan yang tepat dalam menjalankan fungsinya tersebut. Gerakan yang dilakukan mahasiswa harus bisa menjadi problem solver (pemecah masalah), jangan sampai gerakan tersebut malah menimbulkan masalah baru atau bahkan memperparah keadaan.

Duluu... Saya juga orang yang protes terhadap demo mahasiswa, tapi setelah saya pelajari, saya mulai belajar bahwa saya harus cukup tahu diri untuk tidak menilai sesuatu dari apa yang terlihat saja. Mengontrol lidah saya mungkin jauh lebih baik. So, jangan asal demo! tapi harus yang terpelajar yaa.. HIDUP MAHASISWA!!! #SaveUnej J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar