Seperti yang sudah kita bahas di minggu lalu Marjinal identik
dengan masyarakat kecil atau kaum yang terpinggirkan. Marginal karena mereka
melakukan jenis pekerjaan yang tidak jelas jenjang kariernya, kurang
dihargai, dan umumnya juga tidak menjanjikan prospek apapun dimasa depan. Biasanya
kita mengenalnya dengan sebutan anak jalanan/punk, arek kere, bahkan anak
gelandangan. Sesungguhnya mereka adalah anak-anak yang tersisih , marginal, dan
teralienasi dari perlakuan kasih-sayang karena kebayakan dalam usia yang
relative dini harus berhadapan dengan lingkungan kota yang keras dan bahkan
sangat tidak bersahabat. Namun, marjinal tidak selamanya kaum terpinggirkan
juga sih, tapi kaum yang berani mengambil jalan hidup yang berbeda dari mainstream,
terminologi marjinal itu pun menurut saya sama dengan orang-orang sombong yang
merasa dirinya lebih baik dan merasa lebih punya power atas sekelompok orang
pemberani.
Dan terus terang
ya gengs, aku kasih acungan jempol buat teman-teman yang hidup di jalan…
Mereka punya kebanggaan, berpenampilan ngepunk, mereka tetap bertahan walau orang-orang
sekitar yang melihat menilainya macam-macam. Bagiku itu sebuah bentuk
perlawanan juga. Melawan pikiran-pikiran orang yang sudah dimapankan — yang
menganggap negatif karena melihat penampilan orang lain yang beda, menyimpang,
diluar kelaziman. Tapi yang lebih penting adalah nilai-nilai punk dalam
prakteknya berkembang dalam kehidupan sehari-hari. Bagaimana mereka bisa survive,
menjalin kebersamaan, saling peduli satu sama lain dan tetap mengunggulkan rasa
dan kebebasan. Hidup di jalanan kan penuh tantangan. Apalagi sesusia mereka,
ada yang masih anak-anak, yang orang bilang diluar kewajaran — ketika anak-anak
yang lain kan sekolah, pulang ke rumah, bermain, latihan ini dan itu, les piano
… Mereka hidup di jalanan mencari uang untuk membantu orangtua. Kadang dikejar
dan digaruk trantib. Digertak atau diperas orang yang sok jagoan, macho… Tapi
dalam posisi bertahan hidup di jalan, mereka mandiri, sehat, gembira, dan punya
rasa humor. Dan itu, manusiawi banget!
Bagi mereka, anak punk sebatas tempat pelarian. Lari dari
kesumpekan rumah. Lari dari tekanan hidup. Lari dari tanggungjawab. Lari dari
kenyataan! Di kepala mereka, dengan berpenampilan diri seperti punker, mereka
bisa bebas dari segala bentuk tekanan hidup, bebas semau-gue, bebas nenggak
minuman atau menelan puluhan tablet dextro, bebas mengekspresikan diri
sebebas-bebasnya walau masyarakat di sekitarnya terganggu. Dilain sisi jalanan
adalah kehidupan. Di jalanan mereka bertemu dengan orang-orang, di jalanan
mereka saling berbagi pengetahuan, di jalanan mereka berdagang, di jalanan
mereka menyuarakan kebenaran melalui nyanyian.
Perjuangan kaum marjinal yang mungkin seringkali kita
mengabaikannya bahwa kaum miskin, kaum marjinal, dan orang-orang yang tidak
diperhitungkan di masyarakat ada karena kitalah yang menciptakan mereka.
Terutama oleh struktur sosial, juga oleh saya, Anda dan kita semua. Sehingga,
kita mempunyai tanggung jawab untuk membantu dan mengangkat derajat mereka. Santuni
mereka yang membutuhkan bukan karena kasihan, tapi karena mereka adalah
tanggungjawab kita. Hargai yang muda, hormati yang tua. karena kita duduk sama
rendah berdiri sama tinggi.
Jalan raya bukanlah sekadar tempat untuk bertahan hidup.
Bagi kaum muda tersebut jalanan juga karena untuk menciptakan satu organisasi
sosial, akumulasi pengetahuan dan rumusan strategi untuk keberadaaan
eksistensinya. Artinya ia juga berupaya melakukan penghindaran atau melawan
pengontrolan dari pihak lain.
Pada saat krisis ekonomi, jumlah anak jalanan melonjak
400 persen. Sedangkan Departemen Sosial, tahun 1998 memperkirakan, jumlah anak
jalanan mencapai angka 170.000 anak. Anak jalanan, secara umum akan dibilang
anak jalanan yang masih tinggal dengan orantuanya atau keluarganya dan anak
jalanan yang benar-benar lepas dari keluarganya serta hidup sembarangan di
jalanan. Usia mereka 6-15 tahun. Negara memandang anak-anak dan kaum muda
sebagai satu aset nasional yang berharga. Karena itu, investasi untuk
menghasilkan peningkatan modal manusia (human capital) harus sudah disiapkan
sejak sedini mungkin.
Dalam hal tugas orang dewasa adalah melakukan
penyiapan-penyiapan agar seorang anak bisa melalui masa transisinya menuju
dewasa. Akibatnya ada pemisahan yang jelas antara masa anak-anak dan masa muda
dengan masa dewasa. Adalah tugas orang tua untuk memberikan pemenuhan gizi yang
dibutuhkan, mengirim ke sekolah sebagai bagian dari penyiapan masa transisi. Melalui
UU No. 10/1992 diambil satu keputusan yang menjadikan keluarga sebagai alat
untuk mensukseskan pembangunan. Keluarga tidak hanya dipandang memiliki fungsi
reproduktif dan sosial, melainkan juga fungsi ekonomi produktif. Pengambilan
keputusan keluarga dijadikan alat untuk mensukseskan pembangunan, pada
gilirannya, membawa perubahan pada posisi anak-anak dan kaum muda dalam
masyarakat.
Sebuah kategori sosial, anak jalanan, bukanlah satu
kelompok yang homogen. Sekurang-kurangnya ia bisa dipilah ke dalam dua kelompok
yaitu anak yang bekerja di jalan dan anak yang hidup di jalan. Perbedaan
diantaranya ditentukan berdasarkan kontak dengan keluarganya. Anak yang bekerja
di jalan masih memiliki kontak dengan orang tua, sedangkan anak yang hidup di jalan
sudah putus hubungan dengan orang tua.
Namun, jangan khawatir lagi gengs.. sudah ada Sahabat Anak (SA) untuk meminimalisir anak jalanan yang awalnya
tidak punya masa depan cerah, sekarang diberi kesempatan untuk mendapatkan hak
itu. (SA) ini adalah sebuah yayasan nirlaba yang digerakkan oleh para
sukarelawan, memperjuangkan terpenuhinya hak-hak anak marginal dan anak jalanan
di Jakarta dan sekitarnya supaya mereka tidak terus hidup di jalan dan memiliki
masa depan cerah. Saat ini, SA memiliki Bimbingan Belajar (Bimbel) gratis di
tujuh area Jakarta, yaitu di Prumpung, Grogol, Cijantung, Gambir, Manggarai,
Tanah Abang, dan Kota Tua, serta dua sekolah nonformal untuk remaja putus
sekolah. Sahabat Anak mendukung kampanye “Stop Beri Uang, Jadilah
Sahabat Anak”.
Gerakan yang dirintis sejak 1997
tersebut dimulai oleh sekelompok pemuda yang menjalin persahabatan dengan
anak-anak kaum marginal melalui acara tahunan Jambore Anak Jalanan (sekarang
dikenal sebagai Jambore Sahabat Anak). Selama lebih dari 17 tahun
keberadaannya, selain Bimbel, sekolah nonformal, dan TK/PAUD anak jalanan – SA
juga secara rutin melakukan pembagian makanan/minuman bergizi, pengobatan
gratis, kelas keterampilan (komputer, kuliner, musik, pertanian) serta pembekalan
wirausaha.
![]() |
| Anak Indonesia Bermain Angklung |
Dan Masih ingakah kalian? Dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional dan
69 tahun Kemerdekaan Indonesia, 1.000 anak marginal berkumpul dan bermain
bersama dalam acara Jambore Sahabat Anak (JSA) 2014 yang diadakan di Bumi
Perkemahan Ragunan, Jakarta Selatan. Kegiatan tahunan ini memberi
petunjuk bahwa mereka pun berharga dan punya kesempatan yang sama untuk
meneruskan tongkat estafet dalam pembangunan bangsa.
Menurut data Survey Sosial dan Ekonomi Nasional (Susenas) pada
2012, ada sekitar 50 juta anak Indonesia yang belum memiliki akta kelahiran.
Berdasarkan data dari Kementerian Sosial RI, lebih dari 90 persen anak jalanan
di Jakarta tidak memiliki akta kelahiran. Tanpa akta kelahiran, anak-anak
marginal sangat rentan terhadap pelanggaran HAM. Tanpa akta kelahiran pula, hak
asasi mereka untuk memperoleh layanan pendidikan formal hingga akses terhadap
fasilitas kesehatan tidak bisa terpenuhi. Oleh karena itu, pengakuan identitas
kewarganegaraan lewat pencatatan kelahiran menjadi sangat penting dan patut
diperjuangkan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar