Sabtu, 19 November 2016

Indahnya berhijab

Assalamualaikum....

*Gini guys, banyak dari teman-teman yang sudah tau tapi enggan berjilbab alasannya belum siap atau dari pada berjilbab tapi bejat, mending jilbabin hati dulu.. dan ada yang belum tau wajib hukumnya mengenakan jilbab.. bahkan setiap kali berbicara mengenai hukum wajib menggunakan jilbab sering kali ada perdebatan/pembantahan yang terjadi..”u
Vanilla Caffe
Beberapa waktu lalu saya lagi nongki di Vanilla Caffe, tanpa sengaja saya bertemu sama teman-teman lama waktu SMP. Akhirnya kami makan bareng dan sedikit curcol. Dari berbagai obrolan kami, akhirnya ia melontarkan satu pertanyaan. "Def, sekarang jilbaban terus ya?". Saat itu saya cuma tersenyum sebelum memberikan jawaban.
Memang sih kalau saat SMP saya gak pakai jilbab, tapi kalau udah pulang sekolah gitu selalu pakai jilbab. Soalnya harga seragam lengan panjang menurut saya saat itu mahal dari pada yang lengan pendek. Kasihan orang tua saya, akhirnya terpaksa saya pilih saja seragam yang tak berjilbab. Hal semacam itu sebenarnya sangat mudah menjawab pertanyaan yang sudah familiar di telinga saya.
Namun, sulitnya itu ketika harus meyakinkan orang lain tentang sesuatu hal dimana saya sendiri baru bisa meyakini diri saya sendiri setelah beberapa tahun menjalaninya. Jadi engga salah juga sih kalau masih banyak orang yang mempertanyakan keteguhan saya dalam memakai hijab ini hehehe. Bahkan saat diajak keluar sama kakak saya sebentar, entah ke ATM atau kemana gitu saya selalu pakai jilbab, dan itupun masih dikatain “dadak jilbaban!”. Nah ini nih yang bikin saya ketawa.
Memang, engga ada satupun dari kita yang mau dianggap sok suci. Tapi saat ini saya bisa mengatakan bahwa tampaknya keputusan untuk membuka hijab akan menjadi sebuah keputusan terbodoh yang bisa saya buat dalam hidup saya. Saat ini hijab bukan hanya sebagai sebuah kewajiban, tetapi menjadi bagian dari diri saya.
Dan untuk mencapai tahap tersebut bisa dibilang sangat jauh dari mudah. Setiap malam saya harus belajar ke madrasah dan tak mau telat hadir ketika ada pengajian. Biasanya sih mengenai seputar agama mulai dari saling berbuat kebaikan, cerita tentang para nabi, yang pasti mengingatkan saya tentang norma - norma dalam agama Islam.
Kebetulan hari itu, topik yang diangkat oleh pak ustadz dalam sebuah pengajian umum dalam rangka bersih desa adalah tentang kewajiban untuk menutup aurat bagi perempuan. Engga usah dibahas lebih dalam lah yaa disini tentang apa aja kewajiban kita sebagai perempuan untuk menutup aurat. Intinya, “Seorang wanita yang berjilbab ia akan mudah dikenal dan tidak akan diganggu”.
Engga lama sejak  itu, akhirnya saya benar-benar mencoba membandingkan bagaimana rasanya keluar rumah memakai jilbab dan tidak memakai jilbab diluar jam sekolah (saat itu masih SMP).  Dan ternyata fakta membuktikan ketika kita tidak memakai jilbab itu sangat tidak aman sekali, banyak gangguan yang saya alami ketika perjalanan. *serius. Padahal disitu jalannya juga ramai. Entah di “Suit-suit”, diikutin dari belakang, bahkan dicolek-colek. Lalu saya melewati jalan yang sama juga, ternyata ketika saya memakai jilbab sama sekali tidak ada yang menggoda. Jadi merasa aman kemanapun saya pergi. Disinilah saya mulai suka mendalami ajaran agama mengenai perempuan muslimah.
Walaupun terkadang saya juga masih melihat teman-teman yang belum memakai jilbab. yang selalu terlintas dalam pikiran saya, andai ya kita itu memakai jilbab dan berpakaian yang menutup aurat, menurut saya itu akan lebih bisa menyenangkan dan kitapun bebas berekspresi. Tetapi dengan cukup banyaknya teman saya yang berjilbab dan sekarang style hijab menjadi trending topik sehari-hari, membuat saya tidak ingin melepas hijab ini. Selain itu, saya semakin percaya diri. Inilah faktor utama tingginya keyakinan untuk menutup aurat.
Banyak sekali lontaran yang saya terima seperti "Mbak, cantiknya pakai jilbab. Pasti anak baik-baik", katanya sambil tersenyum. Mendengar hal itu, pandangan orang terhadap wanita yang berjilbab pasti dianggap wanita baik-baik. Padahal banyak sekali kekurangan dibalik jilbabnya tersebut. Saat itu saya langsung teringat dengan salah satu dp temen saya yang ada di BBM, “Kita dihargai bukan karena kita mulia, tetapi karna Allah masih menutup aib dan segala keburukan yang pernah kita perbuat, dengan menutup aurat”.
Menjadi mahasiswa di IAIN memberikan kebahagiaan tersendiri bagi saya. Tempat ini  merupakan awal dimana rasa percaya diri dan kenyamanan saya dalam memakai hijab meningkat dengan pesat. Banyak diantara mereka yang patut dijadikan sebagai role model dengan kelebihan yang mereka miliki.
Hal ini bukan hanya membuat saya merasa memiliki teman seperjuangan tetapi juga memicu saya untuk menjadi lebih baik dalam membawa hijab yang lebih baik. Saya menjadi tahu bagaimana cara mengontrol diri saya supaya tetap bisa menjalankan apa yang sepantasnya dilakukan oleh seorang perempuan berhijab. Baik dalam berpikir, berbuat maupun berucap.
Salah satu teman saya pernah mengatakan bahwa "Perempuan yang mengenakan hijab belum tentu lebih baik dari yang mereka yang tidak mengenakannya". Saya setuju dengan pernyataan tersebut, dan saya yakin banyak orang di luar sana yang sependapat dengan itu ketika melihat hijaber yang seperti saya ini. *Hehehe... Bagaimanapun orang memandang hijab, saya yakin setiap orang punya cara dan pikirannya masing - masing.
Satu contoh sederhana adalah ketika kebanyakan orang belajar supaya bisa menjadi sempurna baru kemudian mengenakan hijab, namun disini saya justru memilih belajar banyak dari hijab supaya bisa menjadi orang yang lebih baik dan berakhlak. menurut saya saat ini hijab adalah guru terbaik bagi saya setelah bunda saya dan pengalaman yang saya lalui. Hijab bukan hanya memberi banyak pembelajaran dari segi agama, tetapi juga secara keseluruhan.

Disini satu hal yang perlu saya tekankan adalah menjadi lebih baik bukan berarti sempurna, sempurna itu hanya milik Allah SWT. Masih inget pepatah jaman SD kan, bahwa tidak ada gading yang tak retak? Jadi baik saya, para perempuan berhijab lainnya, maupun yang engga berhijab, kita semua, pasti tetap banyak kekurangannya. Engga perlu takut dengan kekurangan, karena dengan itu bisa menyadarkan kita untuk belajar supaya bisa lebih dari itu. Dan yang lebih penting lagi, sebuah pembelajaran itu engga selalu berjalan sebentar, tetapi kadang memerlukan proses yang panjang supaya bisa bertahan lama. Nikmati aja proses itu, engga usah dihiraukan apa kata orang tentang kita dan proses yang kita jalani. Karena orang lain hanya bisa melihat apa yang mereka  lihat dan apa  yang mereka dengar, tetapi engga merasakan apa yang kita alami sebenarnya. So, don’t worry guys! Tetep menjadi diri sendiri, yang mau berubah lebih baik. Happy weekend J