Pengalaman
Terhadap Pelanggaran Kaidah Sosial
Kamu
pernah ditilang? Errr… saya... eh..um..
saya pernah kalo gak mau dibilang sering sih, hehehe.. Nah, kalau ditilang
biasanya kamu milih apa? Titip sidang a.k.a bayar ditempat? Atau malah memilih
ditilang saja? Well, saya mau berbagi cerita dikit yaaa. Tulisan ini saya buat setelah
pulang dari Kota Malang. Ceritanya, saya lagi jalan-jalan bersama p*c*r nih,
saat melewati area Alun-alun Batu tiba-tiba ada polisi yang mengejar kita. Eh..
ternyata plat montor gak terpasang. Kita akhirnya berhenti dan dibawa kekantor
polisi. Dia terlihat gelisah karena terkena tilang dan bertanya-tanya dalam
hatinya mengenai denda yang harus dia bayar.
Menurut UU Lalu Lintas Nomor 22 Tahun 2009 yang sudah
diberlakukan sejak mulai Januari 2010 dan merupakan pengganti UU sebelumnya
yaitu UU Nomor 14 Tahun 1992. Kami melanggar 2
pasal sekaligus loh! yakni pasal 280 & pasal 288. Yang berisi :
Plat nomor tidak standar
Menurut
Pasal 280, setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor di jalan yang
tidak dipasangi Tanda Nomor Kendaraan Bermotor yang ditetapkan oleh Kepolisian
Negara Republik Indonesia, dipidana dengan pidana kurungan paling lama 2 (dua)
bulan atau denda paling banyak Rp. 500.000 (lima ratus ribu rupiah).
Tidak Membawa SIM
Menurut
Pasal 288, setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor di jalan yang
tidak dapat menunjukkan Surat Izin Mengemudi yang sah, dipidana dengan pidana
kurungan paling lama 1 (satu) bulan dan/atau denda paling banyak Rp. 250.000
(dua ratus lima puluh ribu rupiah).
Dari pada menunggu dan mendapat slip biru atau merah, kita nanti akan dikenakan denda maksimal juga
deh. Wait, trus apa beda slip merah dan slip biru
gens?
Tilang dengan slip biru
Jika kita memilih ditilang dengan slip biru, itu
artinya kita mengaku bersalah dan bersedia membayar denda langsung ke bank
milik pemerintah yang ditunjuk. Ada sisi enak dan gak enaknya sih. Well,
enaknya sih gak perlu datang sidang, yang
artinya tidak perlu meluangkan waktu cuti atau ijin dari kantor untuk
menghadiri sidang ya brow, secara kita eh
maksudnya saya ini masih mahasiswa, berasa rugi banget deh kalau izin
buat ginian doank kan J So,
tilang slip biru ini memudahkan kita. Tapi mahal bangeeeett..
Lalu, bagaimana nasib SIM atau STNK kita?
Nah, setelah membayar denda tilang di bank pemerintah
yang ditunjuk, maka kita bisa mengambil SIM atau STNK di kantor polisi yang
telah ditetapkan, biasanya sih kantor polisi terdekat pada saat kita melanggar.
Jangan kwatir, di surat tilang dituliskan koq kita bisa tebus SIM atau STNK
kita dimana plus nominal dendanya, dan biasanya pak polisi pun
memberitahukannya secara lisan pada kita. Tentu saja,jangan lupa tunjukkan
bukti pembayaran denda tilang dari bank yah. Daaaan… setelah itu, SIM dan
STNK kita kembali ditangan deh. Proses ini juga termasuk mudah
dan ringkas lho walau memang menguras kantong ya broow.
Tapi ada yang perlu dicatat dari tilang
slip biru:
Usahakan bersegera membayar dendanya di bank karena
jika kita lambat membayarnya, maka SIM atau STNK kita nantinya akan dilimpahkan
ke kejaksaan.
Tilang dengan slip merah
Nah, apabila kita memilih ditilang dengan slip merah,
itu artinya kita tidak mengakui kesalahan. Akibatnya, kita harus datang ke pengadilan setempat yang
ditunjuk untuk mengikuti sidang. Sama seperti tilang slip biru, SIM atau STNK kita akan diambil
lalu diberikan selembar surat tilang berwarna merah. Di dalam surat tilang,
dituliskan tanggal dan waktu sidang beserta nama pengadilannya. Namun perbedaan
nyata dari slip merah dan slip biru adalah jika ditilang dengan
slip merah maka jumlah denda tilangnya dapat saja lebih murah atau bahkan NOL
rupiah. Tergantung polisinya yang
menilang J
Sedikit
curcol nih, saat itu juga p*c*r gue langsung berlagak melas dihadapan polisi
sambil nunjukin uang 100rb-an didompet, dan itu uang satu-satunya buat pulang
ke Tulungagung. Padahal disaku masih banyak. Wkkwkwkw.....
Karena saat
itu yang terkena tilang buanyak, dia langsung saja menghampiri polisi lain dan
bilang kalau sudah keruangan sebelah. Padahal belum *eet J dia bilang hanya disuruh bayar. Akhirnya dia kena
tilang Rp.200.000,- .
Astagaaaa….. untuk melanggar jalan saja, kita kena
denda 200rebu broow…. DUA RATUS RIBUUUUU!!! (Melambaikan tangan kepada dua
pasang sepatu Char*** & Kei** sambil terisak-isak). Hahaha terkesan lebay?
Enggak ah, whoooaaaa sapa sih yang gak lebay kehilangan 200 ribu hanya karena
PLAT gak terpasang dan lupa gak bawa SIM? Well, untuk mahasiswa seperti saya
inih, 200rebu itu berarti banget! *elus-elus dada #cengir*. Padahal tuh uang
buat kita shoping sama makan sate kambing!!!
Sambil muka panik, saya nungu aja diluar. Tiba-tiba ada pasangan suami
istri gitu abis keluar dari ruangan. Terus saya tanyain, kena berapa mbak?
Kesalahannya apa? Gak bawa sim? Helm? Atau apa? Cuma gak pake helm
mba.....padahal surat-surat semua lengkap, sim juga bawa, helm juga SNI.. hmm..
Ternyata mereka itu juga pendatang yang iseng-iseng aja ga pake helm buat beli
makanan, karna jarak penjual dan rumah sodaranya itu deket.
Bayangkan gengs???? Cuma gitu doang polisi udah gamau tau! Akhirnya mereka
langsung menuju aja ke ATM terdekat buat ambil tunai Rp.500.000,- . Waw, dalem
hati guwe nih, pinter juga si p*c*r bisa ngelabuhi polisi. Kita udah nglanggar
double tapi Cuma kena 200rebu J. Untung*
Setelah itu kita keluar dan langsung cabut aja biar gak ketahuan. Soalnya
polisi yang menilang kita waktu itu sedang mengurusi orang lain juga yang
melanggar. Yang penting STNK udah ditangan. Aman!!! Tapi kalo dipikir-pikir nih
ya, mending uang yang hilang sih,
daripada harus ngurus sidang. Apalagi montornya hasil pinjem dari temen kos. Hahaha.... pasti tambah ribet aja.
Ya.... kalo itu montornya sendiri ga masalah guys! Nah ini udah minjem dikenain
tilang, duh gak kebayang -_-
Abis ketilang masih sempet foto J
Sampai saat ini yang ada dalam fikiran saya, uang hasil tilangan ditempat
kemarin itu kemana yaaa...? Padahal
sudah diatur jelas dalam UU Lalu Lintas, polisi hanya sebagai alat tata tertib
dimasyarakat dan jika melanggar maka harus menjalani persidangan. Dan hal semacam
ini bukan hanya di Batu aja loh, disemua daerah seperti ini. Setiap kali
melaggar maka kalian akan langsung mengeluarkan uang saja untuk mereka, beres!
Parahnya lagi kalo yang jadi polisi itu sanak saudara sendiri, mau melanggar
kayak apa “sudah, jalan aja!”. Jadi tidak heran, jika UU yang disahkan
itu tidak berlaku lagi dengan kenyataan dimasyarakat.
So...Hati-hati
guys, jangan melanggar peraturan yah. Tapi, kalaupun melanggar, udah tahu kan
sekarang? Tetap saja ngluarin uang. J Drive
safe dear!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar