Senin, 10 Oktober 2016

Ini ceritaku mana ceritamu?

Pengalaman Terhadap Pelanggaran Kaidah Sosial
Kamu pernah ditilang? Errr… saya...  eh..um.. saya pernah kalo gak mau dibilang sering sih, hehehe.. Nah, kalau ditilang biasanya kamu milih apa? Titip sidang a.k.a bayar ditempat? Atau malah memilih ditilang saja? Well, saya mau berbagi cerita dikit yaaa. Tulisan ini saya buat setelah pulang dari Kota Malang. Ceritanya, saya lagi jalan-jalan bersama p*c*r nih, saat melewati area Alun-alun Batu tiba-tiba ada polisi yang mengejar kita. Eh.. ternyata plat montor gak terpasang. Kita akhirnya berhenti dan dibawa kekantor polisi. Dia terlihat gelisah karena terkena tilang dan bertanya-tanya dalam hatinya mengenai denda yang harus dia bayar.

Menurut UU Lalu Lintas Nomor 22 Tahun 2009 yang sudah diberlakukan sejak mulai Januari 2010 dan merupakan pengganti UU sebelumnya yaitu UU Nomor 14 Tahun 1992. Kami melanggar 2 pasal sekaligus loh! yakni pasal 280 & pasal 288.  Yang berisi :
Plat nomor tidak standar
Menurut Pasal 280, setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor di jalan yang tidak dipasangi Tanda Nomor Kendaraan Bermotor yang ditetapkan oleh Kepolisian Negara Republik Indonesia, dipidana dengan pidana kurungan paling lama 2 (dua) bulan atau denda paling banyak Rp. 500.000 (lima ratus ribu rupiah).
Tidak Membawa SIM
Menurut Pasal 288, setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor di jalan yang tidak dapat menunjukkan Surat Izin Mengemudi yang sah, dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) bulan dan/atau denda paling banyak Rp. 250.000 (dua ratus lima puluh ribu rupiah).
Dari pada menunggu dan mendapat slip biru atau merah, kita nanti akan dikenakan denda maksimal juga deh. Wait, trus apa beda slip merah dan slip biru gens?

Tilang dengan slip biru
Jika kita memilih ditilang dengan slip biru, itu artinya kita mengaku bersalah dan bersedia membayar denda langsung ke bank milik pemerintah yang ditunjuk. Ada sisi enak dan gak enaknya sih. Well, enaknya sih gak perlu datang sidang, yang artinya  tidak perlu meluangkan waktu cuti atau ijin dari kantor untuk menghadiri sidang ya brow, secara kita eh maksudnya saya ini masih mahasiswa, berasa rugi banget deh kalau  izin buat ginian doank kan J So, tilang slip biru ini memudahkan kita. Tapi mahal bangeeeett..

Lalu, bagaimana nasib SIM atau STNK kita?
Nah, setelah membayar denda tilang di bank pemerintah yang ditunjuk, maka kita bisa mengambil SIM atau STNK di kantor polisi yang telah ditetapkan, biasanya sih kantor polisi terdekat pada saat kita melanggar. Jangan kwatir, di surat tilang dituliskan koq kita bisa tebus SIM atau STNK kita dimana plus nominal dendanya, dan biasanya pak polisi pun memberitahukannya secara lisan pada kita. Tentu saja,jangan lupa tunjukkan bukti pembayaran denda tilang dari bank yah. Daaaan… setelah itu, SIM dan STNK kita kembali ditangan deh.  Proses ini juga termasuk mudah dan ringkas lho walau memang menguras kantong ya broow.
Tapi ada yang perlu dicatat dari tilang slip biru:
Usahakan bersegera membayar dendanya di bank karena jika kita lambat membayarnya, maka SIM atau STNK kita nantinya akan dilimpahkan ke kejaksaan.

Tilang dengan slip merah
Nah, apabila kita memilih ditilang dengan slip merah, itu artinya kita tidak mengakui kesalahan. Akibatnya,  kita harus datang ke pengadilan setempat yang ditunjuk untuk mengikuti sidang. Sama seperti tilang slip biru, SIM atau STNK kita akan diambil lalu diberikan selembar surat tilang berwarna merah. Di dalam surat tilang, dituliskan tanggal dan waktu sidang beserta nama pengadilannya. Namun perbedaan nyata dari slip merah dan slip biru adalah jika ditilang dengan slip merah maka jumlah denda tilangnya dapat saja lebih murah atau bahkan NOL rupiah. Tergantung polisinya yang menilang J

Sedikit curcol nih, saat itu juga p*c*r gue langsung berlagak melas dihadapan polisi sambil nunjukin uang 100rb-an didompet, dan itu uang satu-satunya buat pulang ke Tulungagung. Padahal disaku masih banyak. Wkkwkwkw.....

Karena saat itu yang terkena tilang buanyak, dia langsung saja menghampiri polisi lain dan bilang kalau sudah keruangan sebelah. Padahal  belum *eet J dia bilang hanya disuruh bayar. Akhirnya dia kena tilang Rp.200.000,- .


Astagaaaa….. untuk melanggar jalan saja, kita kena denda 200rebu broow…. DUA RATUS RIBUUUUU!!! (Melambaikan tangan kepada dua pasang sepatu Char*** & Kei** sambil terisak-isak). Hahaha terkesan lebay? Enggak ah, whoooaaaa sapa sih yang gak lebay kehilangan 200 ribu hanya karena PLAT gak terpasang dan lupa gak bawa SIM? Well, untuk mahasiswa seperti saya inih, 200rebu itu berarti banget! *elus-elus dada #cengir*. Padahal tuh uang buat kita shoping sama makan sate kambing!!!

Sambil muka panik, saya nungu aja diluar. Tiba-tiba ada pasangan suami istri gitu abis keluar dari ruangan. Terus saya tanyain, kena berapa mbak? Kesalahannya apa? Gak bawa sim? Helm? Atau apa? Cuma gak pake helm mba.....padahal surat-surat semua lengkap, sim juga bawa, helm juga SNI.. hmm.. Ternyata mereka itu juga pendatang yang iseng-iseng aja ga pake helm buat beli makanan, karna jarak penjual dan rumah sodaranya itu deket.

Bayangkan gengs???? Cuma gitu doang polisi udah gamau tau! Akhirnya mereka langsung menuju aja ke ATM terdekat buat ambil tunai Rp.500.000,- . Waw, dalem hati guwe nih, pinter juga si p*c*r bisa ngelabuhi polisi. Kita udah nglanggar double tapi Cuma kena 200rebu J. Untung*

Setelah itu kita keluar dan langsung cabut aja biar gak ketahuan. Soalnya polisi yang menilang kita waktu itu sedang mengurusi orang lain juga yang melanggar. Yang penting STNK udah ditangan. Aman!!! Tapi kalo dipikir-pikir nih ya,  mending uang yang hilang sih, daripada harus ngurus sidang. Apalagi montornya hasil pinjem dari temen kos. Hahaha.... pasti tambah ribet aja. Ya.... kalo itu montornya sendiri ga masalah guys! Nah ini udah minjem dikenain tilang, duh gak kebayang -_-
 
Abis ketilang masih sempet foto J
Sampai saat ini yang ada dalam fikiran saya, uang hasil tilangan ditempat kemarin  itu kemana yaaa...? Padahal sudah diatur jelas dalam UU Lalu Lintas, polisi hanya sebagai alat tata tertib dimasyarakat dan jika melanggar maka harus menjalani persidangan. Dan hal semacam ini bukan hanya di Batu aja loh, disemua daerah seperti ini. Setiap kali melaggar maka kalian akan langsung mengeluarkan uang saja untuk mereka, beres! Parahnya lagi kalo yang jadi polisi itu sanak saudara sendiri, mau melanggar kayak apa “sudah, jalan aja!”. Jadi tidak heran, jika UU yang disahkan itu tidak berlaku lagi dengan kenyataan dimasyarakat.

So...Hati-hati guys, jangan melanggar peraturan yah. Tapi, kalaupun melanggar, udah tahu kan sekarang? Tetap saja ngluarin uang. J Drive safe dear!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar